Rabu, 06 Februari 2019

Sebab hidup terlalu singkat untuk membiarkan orang lain menentukan apa yang membuat kita bahagia

"Sebab hidup terlalu singkat untuk membiarkan orang lain menentukan apa yang membuat kita bahagia."


Kita punya hak untuk memilih jalan mana yang akan kita tempuh. Dan inilah jalan saya. Jalan yang saya pilih untuk meraih kebahagiaan. Salah satu kebahagiaan terbesar saya adalah bisa melanjutkan kuliah. Dan Alhamdulillah, lewat program Bidikmisi, Allah memberi kebahagiaan itu.

Nama saya Nurhikma Ramadhani, anak pertama dari enam bersaudara. Bapak saya seorang honorer dan Ibu saya seorang pedagang baju keliling. Penghasilan Bapak dan Ibu saya hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Sejak duduk di bangku kelas X SMA, Ibu selalu mengingatkan saya untuk tidak berharap melanjutkan kuliah. Ibu tahu bahwa saya sangat ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bapak bilang itu adalah hal yang mustahil. Bapak tidak punya tabungan ataupun ladang yang bisa dijadikan harapan untuk membiayai kuliah saya. Penghasilan Bapak tidak cukup untuk menguliahkan saya. Tapi saya selalu yakin, Insya Allah dengan usaha dan doa, saya pasti bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Allah akan menunjukkan jalan untuk itu.

Februari 2011, kabar bahagia itu datang. Pihak sekolah merekomendasikan saya untuk mendapatkan Beasiswa Bidikmisi. Tanpa berpikir panjang, saya langsung mengurus segala persyaratan administrasinya dengan penuh semangat. Dan setelah menunggu empat bulan, akhirnya pihak kemahasiswaan Politeknik Negeri Ujung Pandang menghubungi saya, berkas saya telah diterima dan lolos seleksi serta mengundang saya untuk ikut wawancara.

Agustus 2011, saya telah resmi menjadi mahasiswa Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang. Sungguh kebahagiaan yang tidak dapat saya ucapkan dengan kata-kata.

Kini, saya telah lulus seleksi penerimaan CPNS di Kementerian Pertanian. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang akan saya dustakan.? Allah telah memberi nikmat kebahagiaan yang begitu luar biasa pada hidup saya.

Saat orang-orang berkata bahwa kuliah hanyalah sebuah mimpi bagi gadis miskin seperti saya. Tapi itu tidak mampu membuat saya berhenti berusaha. Daripada mengkhawatirkan apa yang mereka katakan, mengapa tidak menghabiskan waktu untuk berusaha meraih sesuatu yang mereka akan kagumi.? Berdoa dan teruslah berusaha.!

Terima kasih Bidikmisi. Melalui Bidikmisi saya meraih kebahagiaan terbesar saya.

Salam Bidikmisi..
Menggapai Asa
Memutus Mata Rantai Kemiskinan..

Kamis, 24 Januari 2019

Mempertahankan BIDIKMISI ini sampai menjadi Guru Saleha Sukses

Mempertahankan BIDIKMISI
ini sampai menjadi Guru Saleha Sukses

Saya lahir dari keluarga yg sederhana. Saya dibesarkan oleh keluarga saya dengan penuh kasih, pengorbanan, dan sukaduka.
Ayah saya bernama Muh. Yusuf dan Ibu saya bernama Mulia Susanti.
Sewaktu bersekolah di Taman Kanak saya masih belum bisa memahami apa itu Do’a. Karna setiap pelajaran yang akan dimulai atau sebelum makan dan sesudahnya, kami selalu dibiasakan untuk berDo’a. Namun, guru dan keluarga saya selalu mengajarkan tentang Do’a yg baik kepada saya.
2 tahun berlalu, saya mulai beranjak belajar di Sekolah Dasar saya selalu bersama dengan Sahabat saya yaitu Selviana Wulandari Yahya. Kami selalu bersama, pergi ke sekolah, duduk sebangku, ke kantin bersama, sampai akhirnya pulang juga bersama. Tak ada beban rasanya ketika masih SD karna semua terasa menyenagkan. Sampai akhirnya kelas 6, saya mulai cemas untuk memikirkan Ujian Nasional. Alhamdulillah, dengan kesungguhan belajar dan Do’a semua teman-temanku Lulus Ujian dengan Baik. Mulai saat SD lah saya bisa mendapatkan peringkat 2,3,4 .

Selang beberapa bulan, tahun ajaran penerimaan siswa baru dimulai. Saya memilih untuk melanjutkan pendidikan di sebuah Madrasah. Disinilah saya benar-benar mengalami kesusahan. Waktu itu saya belum punya motor sebagai kendaraan ke sekolah. Saya dibonceng bertiga dengan sepupu saya, dan itu terjadi cukup lama. Sampai akhirnya, saya dibonceng oleh teman saya yang masih termasuk sepupu. Namun, mungkin teman saya ini tidak terlalu menyukai saya, dia sering memarahi, mengatakan hal-hal yg sedih bagi saya. Dia sering tidak membonceng saya karna dia lebih memilih membonceng temannya yang lain. Pernah suatu ketika, saya les sampai sore dan dia juga. Namun, kami tak sekelas jadi waktu keluar kami pun tak sama. Dia pergi bersama temannya menonton sepakbola sementara saya menunggunya sampai magrib. Saat itu saya sangat sedih dan khawatir. Akhirnya, seorang nenek yg baik hati menanyakan siapa dan dimana saya tinggal. Diapun menyuruh anaknya untuk mengantar saya pulang kerumah. Saat itu pun saya belum punya ponsel jadi saya tak bisa mengabari keluarga saya. 3 tahun saya lalui dengan kesederhanaan dan dengan cinta dari teman-teman saya. Alhamdulillah akhirnya perjuangan selama 3 tahun itu mengantarkan saya mendapatkan peringkat 1 pada saat kelas 7 dan peringkat ke 2 saat kelas 8 dan 9. Serta menjadi Siswa Lulusan Terbaik ke 2 seMadrasah saat itu. Saat terharu melihat wajah bahagia dari kedua orangtua saya.

Kembali tahun ajaran penerimaan siswa baru Sekolah Menengah Atas dimulai. Saya memilih melanjutkan sekolah di kampung sendiri karna jika di kota maka akan banyak tantangan seperti jarak yang jauh. Saya menemukan teman-teman  baru meskipun setiap karakter dari mereka berbeda. Saya mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Saat itu, saya dipercaya untuk menjadi bendahara kelas. Saya menjalankan tugas dengan baik meskipun harus belajar tegas kepada teman yg pelit. Setelah naik kelas 11, saya memilih penjurusan IPA karna saya sangat suka dengan mapel KIMIA. Saya punya partner namanya Reni Astuti. Dia sangat pintar, cantik, dan baik hati. Saya selalu bersamanya selama 3 tahun di SMA.Tiba sampai akhirnya saya kekas 12. Saya mulai lebih fokus untuk menghadapi Ujian Nasional Berbasis Komputer pada tahun 2018 dengan bersama Reni tentunya. Dan ketika penjurusan UNBK, saya juga memilih mapel KIMIA sebagai mapel pilihan. Alhamdulillah, dengan Kejujuran, Keikhlasan dan Do’a saya bisa mendapatkan Siswa Lulusan Terbaik ke 3 IPA dan Siswa Lulusan Terbaik ke 4 seSMA. Dan Renilah yang menjadi Siswa Lulusan Terbaik ke 1. Aku bangga dengannya.

Tak hanya itu, karna partnerku itulah aku bisa mengenal namanya SNMPTN, SBMPTN, dan BIDIKMISI. Kami berjuang bersama di SNMPTN, Ahamdulillah dia lulus bersama temanku yg lain dan aku gagal. Akhirnya dia terus memotivasiku untuk mengikuti ujian SBMPTN. Dengan kebaikhatian seorang temanku yg bernama Auliyatul Azmi aku bisa mengikuti ujian. Aku menceritakan kepada orangtuaku tentang ajakan Liya. Dan orangtuaku meRidhai. Alhamdulillah sebelum aku ke makassar, aku sempatkan untuk meminta izin kepada Kakek dan Nenek saya dan keluarga saya yg lain. Saya dikasih uang jalan, meskipun saya tak mengharapkan itu. Saya pergi ke Makassar dengan mata yg kemerahan akibat tak mampu membendung kesedihan bahwa akan pergi jauh meninggalkan rumah. Aku berangkat bersama Liya. Aku diizinkan tinggal di kos kakaknya di Makassar, aku diperlakukan dengan baik. 5 hari aku di Makassar, sampai akhirnya kabar duka datang dari ayahku bahwa kakek ku meninggal dunia. Saat itu, hidupku seakan kelam, pedih, dan meronta di dalam hati. Liya pun dan kakaknya berusaha menenangkanku. Aku sempat meminta agar pemakamannya di undur sampai aku pulang, namun kata ayahku tidak bisa. Malam itupun aku pulang bersama Liya, karna ayahku perasaanya masih sangat tak menentu jadi aku disuruh untuk bermalam di rumah Liya. Keesokan harinya aku pun pulang ke rumah. Menjelang beberapa hari kepergiannya, keluargaku di Palu pulang untuk  menengok keluarga yg sedang bersedih. Tak genap sebulan mereka juga kembali pulang. Beberapa bulan kemudian kabar duka menghampiri kami bahwa tante yg dari Palu meninggal dunia. Ayahku kembali sangat sedih atas kepergian adik perempuan satu-satunya itu. Tante meninggalkan suami dan anaknya yang masih kecil.

Tibalah pengumuman SBMPTN 2018, dan  Alhamdulillah aku lulus seleksi dengan Bidikmisi. Verifikasi Bidikmisi pun diproses. Kali ini saya tinggal di rumah sepupu ayah saya yaitu Dra. Rosnaini. Saya bersama teman saya yaitu Selviana. Kami kembali berjuang untuk Bidikmisi. Lebih 3 kali kami bolak balik Makassar untuk pengurusannya. Alhamdulillah, akhirnya kami dinyatakan lulus BIDIKMISI SBMPTN 2018. Dengan Do’a, Kerja keras, dan Ridha keluarga kami bisa menempuh pendidikan di UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR pada Fakuktas Ilmu Pendidkan prodi PGSD BONE. Dan Reni pada Fakultas MIPA prodi Pendidikan FISIKA. Berbagai impian yg telah ALLAH SWT kabulkan.

AKU BERSYUKUR.

Saat ini saya mulai memasuki semester 2 dan mudah-mudahan saya tetap bisa mempertahankan BIDIKMISI ini sampai menjadi GURU SALEHA SUKSES. ALLAHUMMA AAMIIN.

Sekian pengalaman saya selama berjuang menempuh pendidikan. Semoga dapat memberi motivasi dan inspirasi bagi kita semua.

SALAM BIDIKMISI ,,

PRESTASI TANPA BATAS !!

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


Rabu, 23 Januari 2019

Siapa yang Bersungguh - sungguh Akan Berhasil

“ MAN JADDA WA JADA “
Siapa yang Bersungguh - sungguh Akan Berhasil
 Oleh :
Syaipul Rizki Simanullang
Angkatan 2015, Pendidikan Matematika, FKIP UMSU
Nama saya adalah Syaipul Rizki Simanullang, saya anak ke-4 dari 5 bersaudara. Saya tinggal di desa aek dakka kec. Barus  kab. Tapanuli Tengah. Saya berasal dari keluarga yang serba berkecukupan. Ibu ku seorang petani, tetapi bukan lahan sendiri melainkan punya orang lain, sedangkan ayah ku seorang anggota nelayan. Tapi saya tetap bangga dan bersyukur punya orang tua seperti mereka. Dengan kehidupan yang serba berkecukupan saya tidak pernah merasakan bagaimana berada di bangku Taman Kanak-Kanak ( TK ). Saat itu, Sebelum mengenyam pendidikan, saya selalu datang ke Madrasah Ibtidaiyah yang jaraknya  50 M dari rumah kami untuk melihat siswa-siswa belajar. Pada tahun  ajaran 2002 / 2003 saya mulai masuk di bangku pendidikan sekolah dasar tepatnya MIS NU Aek Dakka. Seiring berjalannya waktu, pada saat kelas 1 semester ganjil saya sering sakit sehingga saya tidak berprestasi saat itu ( saya berada di peringkat 8) , dan syukur alhamdulillah di semester genap saya bisa membalaskannya dengan mendapatkan prestasi menjadi juara kelas bahkan hingga sampai kelas 6.
Pada saat selesai ujian nasional, sekolah SD saya mengadakan perpisahan dengan pergi jalan-jalan yang saat itu pergi ke pantai pandan. Dan saya memberitahukan kepada orang tua saya, tetapi dikarenakan ekonomi yang serba berkecukupan mereka tidak memberi keputusan. Dan tiba di hari H nya semua siswa-siswi berkumpul di sekolah untuk berangkat, tetapi Cuma saya sendiri yang tidak ada di sekolah itu, tiba-tiba rezeki pun mulai menghampiri saya, salah seorang guru di sekolah itu, datang kerumah kami, dan menanya kepada orang tua saya alasan tidak ikut jalan-jalan. Lalu, orang tua saya menjelaskan yang sebenarnya, dan setelah itu guru tersebut menyuruh saya untuk berkemas supaya ikut di acara jalan-jalan tersebut, dan saat itu saya sangat bahagia sekali.
Pada tahun ajaran 2008 / 2009 saya melanjutkan pendidikan saya di sekolah menengah pertama tepatnya di MTsN Barus yang berada 1 km dari rumah kami, pada saat itu saya berada di kelas VII-A karena berdasarkan nomor urut pendaftaran belum berdasarkan peringkat. Karena biasanya yang berada dikelas A itu adalah orang yang unggul. Setelah selesai ujian semester ganjil baru dilakukan penyaringan untuk siswa yang  cocok duduk di kelas unggulan tersebut. Dan alhamdulillah saya mendapat peringkat 5 besar dari seluruh kelas VII, dan saya tetap berada di kelas unggulan hingga kelas IX. Setiap  hari saya pergi kesekolah dengan jalan kaki karena tidak adanya kendraan. Bahkan walaupun hujan turun saya tetap pergi sekolah dengan berpayungkan pelepah daun pisang. Kemudian setelah selesai ujian nasional tingkat SMP/MTs, sekolah ku juga mengadakan jalan-jalan, dan saya tidak ikut karena tidak ada uang.
Dan tahun ajaran 2011 / 2012 saya melanjutkan pendidikan saya ke tingkat SMA tepatnya MAN Barus yang berjarak 2 km dari rumah kami dan saya lalui dengan jalan kaki.  Sebelum masuk ke MAN kami diseleksi untuk masuk ke kelas  A ( unggulan ), B,C,D atau E. Dan pada saat itu saya berharap tidak masuk unggulan ( kelas A ) karena berdasarkan pengalaman kakak senior, siswa yang berada di kelas unggulan akan dikenakan biaya pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan kelas reguler. Dan pada saat pengumuman di mulai, dan saya berharap  semoga nama saya tidak masuk di kelas unggulan tersebut. Tiba-tiba pada saat pengumuman peringkat ke-6 yang dipanggil adalah nama saya, dan saat itu saya langsung bingung antara senang dan sedih. Setelah itu semua siswa masuk sesuai kelasnya masing-masing. Dan saat guru yang masuk ke kelas tersebut adalah wali kelas, dan dia menanya kepada kami semua “apakah senang masuk ke kelas unggulan ?”, semua menjawab senang, Cuma saya yang menjawab tidak. Lalu keesokan harinya guru tersebut memanggil saya ke ruang guru tepat di meja kerjanya. Kemudian, dia menanya alasan saya tidak senang berada di kelas unggulan. Lalu saya menjelaskan semua mengenai perekonomian kami. Dan keesokan harinya saya di pindahkan ke reguler B. Pada waktu itu, sekolah saya menggunakan LKS sebagai bahan ajar, dan semua siswa wajib membeli LKS itu seharga Rp. 8000 per buah. Untuk menutupi itu akhirnya saya bekerja mengambil batu bangunan di sungai untuk di jual ke supir truck pengangkat batu yang mana harga satu truk saat itu sebesar Rp. 100.000. walaupun sambil kerja, saya bisa mendapatkan prestasi setiap semester yaitu menjadi juara kelas.  dan pada saat kenaikan kelas XI dan saat itu  pemilihan jurusan, saya sangat bingung memilih jurusan Agama atau IPA. Hingga saya menanya kepada ibu saya dan dia Cuma menjawab sesuai kemampuan saya saja. Dan entah mengapa tiba-tiba saya memilih jurusan IPA, dan alhamdulillah setelah di jalani memang sesuai dengan minat saya. Saat kelas XI saya mengikuti olimpiade Agama Islam yang diadakan di asrama Haji Medan. yang berangkat pada saat itu sebanyak 6 orang dan alhamdulillah Cuma saya yang bisa membawa pulang piala. Dan juga saya menjadi juara kelas di kelas XI mulai dari semester ganjil dan genap.
Kemudian kenaikan kelas XII perlahan-lahan kesedihan mulai datang lagi, karena semua teman-teman telah membicarakan kemana mereka akan melanjutkan pendidikan setelah tamat dari sekolah ini, seiring berjalannya waktu sampailah pada saat pendaftaran SNMPTN, semua teman-teman saya pada sibuk untuk mengurus berkas pendaftaran, dan saat itu saya sempat meneteskan air mata, dan berkata dalam hati “mengapa ekonomi jadi penghalang cita-cita”. “apakah orang yang tak mampu tidak boleh melanjutkan pendidikan”. Tapi saat itu kata yang selalu ada dalam hati saya adalah “ MAN JADDA WAJADA”. Kemudian saya curhat sama ibu saya, saya mengatakan “mak. Saya pingin kuliah. Saya ingin mencapai cita-cita saya”. Pada saat itu ibu saya Cuma berkata “sabar nak. Kalau ada rejeki pasti kuliah”. Dan saat itu semangat saya bangkit lagi. Kemudian saya dapat informasi dari teman bahwasanya kampus yang berada di padang sidempuan juga membuka jalur SNMPTN . dan jaraknya tidak terlalu memakan banyak biaya ( ongkos ). Lalu saya mengatakan kepada ibu saya lagi. “mak. Di sidempuan juga membuka jalur SNMPTN, dan jaraknya pun tidak terlalu jauh”. Dan tiba-tiba ibu saya berkata “nak gimana kamu mau kuliah, sedangkan ekonomi kita saja cukup-cukup makan, tambah lagi mamak harus memikirkan makanan mu dan lain sebagainya. Lalu tiba-tiba saya putus semangat, di sisi lain saya juga memikirkan perasaan orang tua saya, saya memendam itu semua akan tetapi keinginanku untuk kuliah tetap kuat walaupun itu sambil kerja.
Saat itu saya memutuskan untuk mencari kerja ( mengganggur 1 tahun ) supaya ada modal untuk melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan. Lalu di bulan Oktober 2014 salah seorang sepupu menginfokan pada saya bahwa ada buka lowongan kerja di pabrik meubel untuk tamatan SMA dan saya sangat tertarik . pada saat itu sepupu saya tiba-tiba pulang kampung karena ada acara keluarga mereka, dan ketika mereka pulang saya mengikuti mereka ke belawan dan memasukkan surat lamaran kerja saya di pabrik  meubel tersebut. Berjalannya                                            
waktu hingga bulan Desember saya tidak dipanggil untuk review.
Kakak saya yang nomor 3 kerja di rumah makan dekat kampus UMSU. Lalu tiba-tiba ibu tempat kakak saya kerja mengatakan “bagaimana kalau dia kesini ( RM ) saja, toh dia belum ada kerjaan. Di sini kan bisa bantu-bantu”. Lalu kakak saya menelpon ku dan mengatakan apa yang di katakan ibu tersebut. Dan spontan saya langsung menyetujuinya. Berjalannya waktu, saat itu bulan april dimana penerimaan mahasiswa baru sudah dibuka. Tiba-tiba bapak tempat tinggalku menanya kepadaku. “kamu jadi kuliahnya ?. lalu secara spontan saya terkejut. “gimana mau kuliah pak, sedangkan uang saya belum cukup untuk kuliah” ucap saya. Lalu dia menelpon ibuku, dan ibuku juga mengeluh tentang uang untuk kuliah.
Kemudian dibulan mei saya mendaftar sebagai mahasiswa baru, lalu saya mendengar dari teman adanya beasiswa BIDIKMISI. Yang mana beasiswa itu ditujukan bagi orang yang berprestasi selama sekolah dan juga ekonomi keluarga menengah kebawah. Lalu, saya cepat-cepat kesekolah asal saya untuk mengurusnya  / mendaftarkannya lewat sekolah tersebut. Dan setelah semua berkas telah terpenuhi saya langsung mengantarkannya ketempat daftar ulang. Dan tiba saatnya pengumuman via SMS, akhirnya saya mendapat SMS dan sah dinyatakan lulus BIDIKMISI. Dan akhirnya saya sujud syukur.  Akhirnya saya baru sadar selagi kita masih mau berusaha dan bersungguh-sungguh kita pasti mendapatkannya. Demikianlah kisah perjalanan hidup saya selama menempuh pendidikan mulai dari MI sampai MA.  Apabila ada kata-kata saya yang kurang cocok saya minta maaf.
Pada saat kelas 6 saya mengikuti olimpiade tingkat kabupaten yang diikuti seluruh madrasah mulai dari MI,MTs, dan MA, dan alhamdulillah saya mendapat masuk 5 besar. Selama sekolah di MIS NU Aek Dakka orang tua saya hanya memberi uang jajan Rp. 500 per hari. Tetapi tujuan untuk sekolah bukan untuk mendapatkan uang jajan melainkan untuk menuntut ilmu.

Rabu, 16 Januari 2019

Gadis Pejuang Bidikmisi

Gadis Pejuang Bidikmisi
Saya adalah seorang gadis yang sederhana, namun impianku tak sesederhana diriku melainkan impian dan cita-cita setinggi langit.  Namun saya tidak bisa  menyebutkan satu persatu tentang impian dan cita-cita sangking banyaknya mungkin tak akan sanggup jemari ini untuk mengetiknya.

 Mengapa saya tidak sanggup ?
Karena dibalik impian saya masih banyak impian yang belum kuraih bahkan ada yang beberapa yang terus menerus gagal namun aku tetap mempertahankan impian tersebut walau sudah beberapa kali gagal-gagal terus. Pernah saya menyerah dengan impian-impian yang belum bisa  kuraih alias gagal terus-terusan , namun hatiku berkata kamu jangan menyerah semangat PASTI BISA,  PASTI BISA, PASTI BISA, SABISA BISA KUDU BISA PASTI BISA. 
Dari kegagalan demi kegagalan tersebut akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwa “Kegagalan merupakan bumbu untuk meraih kesuksesan yang lebih sempurna, anda banyak menerima kegagalan semakin akan kuat untuk mencapai kesuksesan, diibaratkan kalau kita mau masak kalau tak ada bumbu-bumbu untuk masak pasti tidak akan enak , begitupun halnya dengan kesuksesan jika anda tak pernah sama sekali mendapatkan kegagalan jangan pernah berharap akan sukses”.

Saya disini akan menceritakan sedikit tentang perjuangan saya untuk meraih BIDIKMISI.

Berawal dari keinginanku yang begitu kuat yaitu pastinya ingin kuliah. Ketika saya mau mendaftar ke Perguruan Tinggi baik itu Negeri maupun Swasta. Ketika saya masih kelas 12 disalah satu Sekolah Menengah Atas yang berada di Jawa Barat. Tentunya saya berkordinasi baik dengan BK dan Pihak TU atau Panitia yang ditugaskan untuk mendaftar semua siswa-siswanya keperguruan tinggi baik Negeri maupun Swasta.

Ketika sedang jam istirahat aku langsung kebawah menuju Ruang TU, sudah sampai akup masuk dan menghampiri salah satu petugas TU. Akupun bilang kepada pihak TU bahwa saya ingin didaftarkan sebagai peserta BIDIKMISI, Pihak TU tersebut membantu saya mendaftarkanya dan  dikasih Password dan ID. Ketika saya sudah menerima password dan ID tersebut saya kembali kedalam kelas , didalam kelas aku sedikit cemas, pikiran dan hati saya menimbulkan berbagai pertanyaan yang negative timbul “apakah saya bisa , apakah ini tak hanya impian semata”. Namun aku berusaha tetap yakin bahwa saya bisa. 

Jam untuk pulangpun telah tiba. Saya pulang kerumah dengan sedikit cemas dan sedikit semangat. Sesampai dirumah aku masuk kedalam kamar dan aku kembali membuka kertas putih yang bertinta hitam itu yang berisikan Pendaftaran Bidikmisi . Antara daftar dan antara tidak.

Satu minggu kemudian….

Hari H pendaftaran SNMPTN telah tiba akupun mencoba mendaftar SNMPTN dengan rasa cemas dan tidak memungkinkan. Namun aku harus mencoba dulu biar aku tahu SNMPTN itu bagaimana setidaknya saya telah mencoba masalah lolos atau tidak itu masalah nanti untuk sekarang mencoba dulu.
Akupun pergi kewarnet langganan … ciaelah langganan? Iaialah langganan pergi kewarnet tersebut karena bisa saya bilang murah dibandingkan warnet lain, eh…eh..eh..eh pasti si penunggu warnet tentunya sudah mengenal saya sangking ketemu terus , dan sempat dibilang oleh si penunggu warnet kepadaku julukan “ Si Langganan” taapalah saya disebut si langganan tidak jadi masalah.

Saya langsung menempati kursi dan nomor warnet yang kosong. Selanjutnya  nyalain computer sesudah dinyalakan langsung saja browsing, lalu saya ketik pencarian pendaftaran SNMPTN  satu  menit kemudian muncul Pendaftaran SNMPTN,  lansung saja klik. Sesudah diklik tidak menunggu waktu lagi langsung membereskan mulai  dari identitas dan lain lain.Sesudah beres identitas dibaca lagi takut ada yang salah, Ketika sudah benar akupun klik SUBMIT. Sudahlah selesai tinggal menunggu hasilnya.

Hari H Pengumumanpun tiba, Hati ini terasa degdegan yang luar bisa , dikarenakan saya takut bagaimana-bagaimana, sebelum saya mngecek apakah lolos atau tidak menarik napas sejenak menenangkan hati ternyata aku tidak lolos masuk keselanjutnya tidak bisa menjadi peserta.

Akupun seketika rasanya tidak ada daya dan upaya, air mata terus menerus berjatuhan rasanya sakit yang luar biasa, akupun sulit berkata “kecewa mungkin Nilai laporku kur ang diatas rata-rata”. Pikiranpun hancur lebur rasanya sulit bangkit, berjalanpun tak mampu, air mata ini terus menerus berjatuhan. Namun aku mencoba untuk menenangkan hati dan pikiran. Beberapa jam kemudian akupun mulai sedikit tenang mulai sedikit sedikit bangkit ,mulai muncul dipikiran dan hati berkata “ Buat apa saya harus meratapi semua ini  mungkin ini bukan yang terbaik buatku, pasti Allah telah menyiapkan sesuatu yang baik dan sesuatu diluar dugaan saya”. 

Ketika aku sudah mengetahui bahwa aku tidak bisa masuk ketahap selanjutnya impian masuk kuliahpun hilang seketika. Lebih baik aku kerja tak usah kuliah.
Kesempatan untuk daftar masuk pergurtuan tinggi negeri masih ada lagi yaitu jalur SBMPTN namun saya sudah bulat tidak akan ikut SBMPTN mungkin bisa dibilang trauma aku akan kerja dulu nanti tahun depan saya bisa daftar kuliah.

Hari demi hari bahkan bulan demi bulan kulalui akupun sudah lulus.
Walau tak seindah yang saya inginkan, berawal dari sini entah bagaimana ceritanya akupun punya niat lagi kuliah dan saat ini begitu kuat dan berambisi tinggi untuk mendaftar kuliah walaupun sekolah di swasta tetapi tanpa biaya alias gratis.
Dari sinilah saya bersemangat lagi pejuang kuliah dan pejuang bidikimisi.

Semua orang pasti tahu apa itu kepanjangan dari bidikmisi, yang belum tahu coba cari ke google deh…………….biar tak penasaran. Ok. Silahkan cari dulu sebelum  membaca selanjutnya.

Akupun berjuang demi ingin mendapatkan BIDIKMISI.

Persyaratan bidikmisi itu tentunya harus ada tanda tangan Rt, Rw, Kepala Desa, Camat. Akupun pergi ke kantor Desa untuk meminta surat, sesudah sampai di kantor desa akupun tentu di tanya dulu maksud dan tujuan saya datang kekantor  Desa :
Kepala Desa  : Ada keperluan apa ade ?
Aku : saya ingin minta SKTM, Pa.
Kepala Desa : oh ia ade langsung saja ke ruangan itu, disana ada Sekjen saya.
Aku : Oh…ia  terimakasih pa. 

 Aku menuju ruangan bapak sekjen tersebut langsung sajasaya berkata  bahwa mau membuat SKTM. Sedang berjalan membuat SKTM bapak Sekjen tersebut  sempat bertanya.

Sekjen : kalao boleh tahu adek mau melanjutkan kemana?
Aku : (akupun terkejut … padahal aku belum renacana mau masuk perguruan tinggi mana,masih dalam dilemma sangking banyak keinginanya ). InsyaAllah kswasta yang berada di salah satu perguruan tinggi swasta di jabar.
Sekjen : oh.. ia de semoga berhasil ya ade.Biar bisa yang menggantikan posisi bapak nanti.
Aku : Aku hanya tersenjyum namun didalam hati berkata aamin.

Satu jam kemudian pembuatan SKTM pun telah selesai akupun pamit dan dilanjut lagi ke Rt,Rw sesudah selesai dilanjut lagi ke Camat. Aku rela menunggu tiga jam di kantor camat demi menunggu pa camat dating karena butuh tanda tanganya.

Kurela pulang basah-basahan karena pada waktu itu hujan yang begitu deras sehingga aku ingin segera selesai.

Alhamdulillah  selesai sudah berkas-berkas untuk mendaftar bidikmisi sudah terkumpul tinggal dikasih keperguruan tinggi swasta.
Berharap sesuai keinginanku walau saya kuliah di swasta namun harus tanpa biaya.
Sesudah saya daftarkan kesalah satu perguruan tinggi swasta tinggal menunggu kepastian eh… pengumuman maksudku.

Sebelumnya sudah saya poting ya di blog tidak akan saya ceritakan lagi langsung meloncat ya.. eh emang meloncat-loncat seperti si kancil. Tidak juga ya sudahlah.

Sesudah menunggu beberapa minggu bahkan mencaoai bulan  dan tentunya berbagai rintangan yang muncul dan cobaan yang harus kulalui, sesudah saya lalui rintangan-rintangan yang menghadang.

Alhamdulillah atas ijin Allah dan atas do’a-do’a dari kedua orang tuaku dan tentunya ini semua atas ridho orang tua juga.
Akhirnya saya diterima sebagai peserta bidikmisi Alhamdulillah air mata ini terus berjatuhan sangking senangnya ternyata dibalik semua ini ada kejutan dari Allah diluar nalar saya. Saya Bersyukur sekali saya bisa kuliah dan kuliahpun tanpa biaya malahan dapat uang. Tidak kerja namun mendapat uang karena ada uang saku.

Saya titip kepada adik-adik pejuang BIDIKMISI teruslah berjuang jangan sampai menyerah pasti Allah akan memberikan yang terbaik. Jangan sampai lelah.
Saya berharap di Negara Indonesia ini semua pemuda-pemudi generasi emas  mempunyai impian kuliah. Dan tak hanya sekedar impian semata , impian tersebut benar benar terjadi atau menjadi kenyataan.

SEMANGAT JANGAN MENYERAH
MAN JADDA WAJADDA
JANGAN MERASA LELAH
BANGKIT
PERJUANGKAN
JANGAN MENYERAH BEGITU SAJA SEBELUM BENAR-BENAR MENJADI KENYATAAN.

SALAM GENERASI EMAS
SALAM LITERASI
SALAM BIDIKMISI
AKU BANGGA MENJADI WARGA NEGARA INDONESIA

TANAMKAN DIDALAM HATI ANDA RASA “SEMANGAT TOTALITAS MANDIRI JUJUR’

SEMANGAT SALAM SUKSES.
Minta do’a nya kaka-kaka semoga saya bisa sukses. Aamiin
Terimakasih sudah membaca semoga bermanfaat.
Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan. 

Ciamis, 25 Desember 2018

Selasa, 15 Januari 2019

The Power of Dream: Yes, We Can!

The Power of Dream: Yes, We Can!
Alfi Huda
(Mahasiswa Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor)
Tulisan ini aku ketik pada waktu yang menurutku sangat kondusif untuk melakukan refleksi diri, yakni di saat Zuhur telah terlaksana, sementara azan Ashar masih agak lama. Waktu yang nikmat untuk menceritakan kisah inspiratif.
Hai namaku Duzhao Dongchuan. Tahun ini umur 11, dari Gansu, Tiongkok. Dari umur 3 setengah tahun aku belajar Inggris sampai sekarang. Aku di Tembok Besar menjadi pemandu wisata bagi wisatawan asing dan berkenalan dengan orang-orang terkenal umpamanya ketua dari Perancis, produser dari Holywood, ilmuwan Inggris. 
Aku punya sebuah impian jadi pemimpin Tiongkok. Orang-orang bilang saya sangat naif. Tiap hari aku datang untuk mengatakan, aku adalah orang yang mampu mencapai impianku. Ya, aku bisa!
Yes, we can! Ya, kita bisa adalah semboyan dari presiden Obama dari sebuah pidatonya dia katakan yes, we can, ya kita bisa. Aku ingin mengatakan, ya aku bisa, ya, betul aku bisa. Saat umur 5 tahun, aku sudah punya sebuah impian, harus jadi pemimpin bangsa di masa depan. Walaupun sekarang ini aku hanya umur 11 tahun. Tapi aku akan mengejar impian ini. 
Waktu umur 4 tahun kukatakan dalam waktu 2 tahun lancar berbahasa Inggris, tidak ada yang percaya termasuk ibuku yang tidak tahu huruf Romawi. Tapi saya katakan: yes, I can, ya, saya bisa, 2 tahun kemudian selain lancar bahasa Inggris, aku di Tembok Besar melayani wisatawan asing, menjadi penerjemah pemandu wisata sampai sekarang. Pada saat ini, aku sudah membantu 20 ribu turis.
Suatu ketika aku berkunjung di Beijing. Pada waktu aku kembali ke hotel. Aku berjumpa dengan seorang asing. Saat ia bertanya apa impianku. Aku katakan aku ingin menjadi orang besar seperti pimpinan bangsa. Aku mengira dia akan seperti orang lainnya bilang itu hanyalah impian kosong. Tapi ternyata dia bilang aku percaya kamu bisa karena hanya orang yang punya impian orang yang tidak menyerah yang pantas dihormati orang lain. Sampai sekarang aku tidak lupa dia karena dialah orang pertama yang percaya pada impianku. Kemudian baru kuketahui, dia adalah produser fim Hollywood Tuan Chris Libby, seorang sutradara yang terkenal.
Cinta dan impian adalah bahan baku terbaik untuk kehidupan. Seperti sebuah mata air membuat pohon kehidupan berkembang. Cinta orangtuaku adalah bahan baku terbaik perkembangan diriku. Tahun 2008 keluargaku berhutang 2 juta. Di musim dingin itu hidup kami bergantung pada 50 kilo sawi putih, 50 kilo kentang untuk bertahan hidup. Tapi walaupun begitu mereka menggunakan sisa uangnya untuk membeli bukuku. 
Aku sangat berterima kasih pada orangtuaku, kalau bukan mereka yang tetap mendukung impianku, tidak ada aku yang seperti ini sekarang. Aku berterima kasih pada tuan Libby dan semua orang yang mempercayaiku, kalianlah yang membuatku tetap percaya pada impianku. Dalam usahaku untuk meraih impianku, saat terombang-ambing keraguan, selesaikan saja persoalan yang di depan mata. Tak seorangpun tahu, besok apa yang terjadi, tapi hanya dengan tindakan baru bisa diputuskan masa depan kalian. Yes, we can (Ya, kita bisa)!!!


Jumat, 11 Januari 2019

Bidikmisi, Cahayaku Menggapai Impian

Bidikmisi, Cahayaku Menggapai Impian
Oleh: Muliana Mursalim

Menurut Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, Ki Hajar Dewantara,  pendidikan itu merupakan tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maksudnya, pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Saya pun setuju dengan pendapat dari Bapak Pendidikan kita bahwa pendidikan  itu sesuatu yang mutlak yang harus ditempuh oleh seorang anak. Dan bagiku, itu sangatlah penting. Akan tetapi, tentunya tidak semua orang berpikiran bahwa pendidikan itu penting. Contohnya saja di dalam keluargaku sendiri. Baginya mengelola kebun kemudian menghasilkan uang itu sudah cukup tanpa harus mengeluarkan banyak dana untuk pendidikan. Menurut mereka, pendidikan dengan jalan menempuh pendidikan tinggi itu harus mengeluarkan banyak biaya. Ya, seperti itulah gambaran dari pemikiran di keluargaku.

Namun, saya mempunyai pandangan yang berbanding terbalik dengan mereka. Dari perbedaan pemikiran itulah yang semakin menguatkan tekadku untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

            Awalnya, saya sangat pesimis bisa melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan. Tentu saja karena melihat kondisi ekonomi keluargaku yang sangat sederhana. Terlebih Ayahku yang hanya seorang imam masjid dengan penghasilan pas-pasan. Begitu pun dengan ibuku yang hanya seorang ibu rumah tangga, membuat sikap pesimis itu perlahan-lahan mulai merobohkan benteng dalam diriku yang telah saya bangun semenjak duduk di bangku sekolah dasar (SD) hingga menengah (SMA).

Akan tetapi, semuanya tidak berlangsung lama. Setelah saya mendapatkan pengumuman dari sekolah tentang adanya beasiswa bidikmisi. Yang saya ketahui saat itu, beasiswa bidikmisi merupakan bantuan pendidikan miskin berprestasi yang diberikan kepada calon mahasiswa sebagai bentuk apresiatif bagi yang memiliki akademik baik namun kondisi ekonomi yang tak mencukupi. Akhirnya, singkat cerita pihak sekolah mendaftarkan namaku sebagai calon penerima beasiswa bidikmisi. Sisanya, saya hanya menunggu pengumuman Ujian Nasional (UN) dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sebagai prasyarat lulusnya beasiswa tersebut.

***

Masih teringiang diingatanku beberapa bulan lalu, tepatnya 7 April 2016. Setelah pelaksanaan UN, saya kemudian menunggu pengumuman SNMPTN. Kala itu, perasaan cemas, was-was, menghantuiku. Terlebih lagi karena kendala ekonomi saya tidak bisa mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan SBMPTN seperti halnya yang diikuti teman-teman sekolahku sembari menunggu pengumuman SNMPTN.

 Hal yang kulakukan saat itu ialah belajar sendiri dengan berbekal soal-soal yang saya download dari internet. Oleh karena itu, lulus lewat jalur SNMPTN sangat saya harapkan bisa menjadi gerbang untuk melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan di universitas ternama yang telah lama saya incar sebelumnya. Tentunya dengan menggunakan beasiswa bidikmisi. Tapi, saat itu takdir berkata lain. Pengumuman SNMPTN saya dinyatakan tidak lulus. Mendengar hal itu, kedua orangtuaku menyarankan untuk melanjutkan kuliah di daerah tempat orangtuaku berada yakni di Sulawesi Barat. Alasannya jelas, biaya yang tidak begitu mahal dan pertimbangan saya ini seorang anak perempuan, jadi tidak usah kuliah di tempat yang jauh, membuat saya berkecil hati. Ditambah lagi, karena saya tidak ikut bimbingan belajar sehingga persiapan untuk mengikuti tahap seleksi berikutnya (SBMPTN) masih kurang.



Namun tekad yang sudah begitu kuat seolah-olah tidak bisa menerima saran dari orang yang sudah menyekolahkanku itu. Sehingga sempat terjadi konflik antara saya dengan orangtua saat itu, karena saya berpendirian untuk tetap mengikuti jalur SBMPTN dengan memilih UNHAS sebagai target saya yang selanjutnya. Dengan setengah hati, orangtuaku akhirnya menyuruh agar saya berangkat segera ke Makassar. Tekad yang sangat besar itulah yang membuat saya beranggapan bahwa SBMPTN ini merupakan tantangan yang harus saya lewati. Sebab hal itu sejalan dengan motto hidup saya “Today’s struggle is tomorrow’s success”, tantangan hari ini adalah kesuksesan hari esok.

Saya sangat yakin dengan hal itu, dan akhirnya semua itu terbukti. Alhamdulillah saya dinyatakan lulus di jalur SBMPTN dengan pilihan pertama di Universitas Hasanuddin, sebuah universitas terfavorit di Indonesia Timur. Mendengar hal itu kedua orangtuaku sangat terharu melihat semangat dan usahaku selama ini yang begitu kokoh untuk melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan.

            Waktu berjalan seperti seharusnya. Tetapi, pengumuman penerimaan beasiswa tak kunjung datang. Saya bingung sebab selama tiga bulan saya kuliah, belum ada pengumuman yang terdengar di telingaku.

            Namun, dua hari setelahnya, hasilnya pun terdengar begitu nyaring di telingaku. Dan... Alhamdulillah saya diterima. Mungkin hal ini terkesan biasa saja bagi orang-orang di luar sana, akan tetapi bagi saya dan keluarga, hal ini adalah momen yang sangat luar biasa. Karena dengan cara inilah saya bisa mengurangi beban kedua orangtuaku dalam menguliahkanku di kampus ini. Sujud syukur pun menjadi cara pertama untuk membuktikan kesyukuranku pada Allah. Allah telah mengabulkan pintaku ini. Tentu semua ini tidak terlepas dari doa yang telah kedua orangtuaku panjatkan di setiap salat mereka. Dengan semangat, usaha, doa dan tawakkal, saya yakin mimpi itu bisa terwujud. Jika yang di atas sudah menghendaki, meskipun terkadang mimpi itu seperti khayalan semu belaka, semuanya pasti akan berjalan sesua kehendakNya.

            Hidup itu tak akan indah tanpa adanya mimpi. Tak ada salahnya kita bermimpi, asalkan mimpi itu harus sesuai dengan kemampuan kita. Bermimpilah selagi kita masih bisa bermimpi dan ingatlah di dunia ini tidak ada sesuatu yang tak mungkin dan segala kemungkinan itu akan terjadi. Meskipun saya berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, saya tidak pernah menjadikan hal itu sebagai suatu penghalang untuk melanjutkan cita-citaku sebagai seorang penegak hukum.

            Hal lain yang mendorongku untuk menempuh pendidikan di Fakultas Hukum ini adalah karena saya selalu menyaksikan adanya ketidakadilan, baik secara langsung maupun tidak langsung seperti melalui media, misal di televisi, internet dan media sosial lainnya yang menurut saya telah mejadi sesuatu yang sangat sering terjadi dan merajalela di negara ini.

            Saya selalu melihat bagaimana pejabat atau kaum borjuis lebih dihormati, diperlakukan lebih sungkan, dan diutamakan dibandingkan rakyat biasa. Terlebih lagi terhadap rakyat kalangan menengah ke bawah. Padahal, menurutku yang namanya keadilan itu buta. Tak memandang nama dan latar belakang seseorang. Seperti apa yang disampaikan dari makna patung dewi keadilan.

Saya pun mengalihkan cara pandangku. Bagaimana memandang Indonesia yang lebih luas, dengan berbagai pemandangan indah, ribuan pulau dengan keanekaragaman sukunya, adat, bahasa, dari sabang sampai merauke, kekayaan alam yang begitu melimpah, dan masih banyak lagi. Namun di balik itu semua saya juga melihat berbagai macam kasus yang membuat kakiku hendak melompat bersuara.

Aku mengharapkan Indonesia bergerak sebagaimana mestinya. Aku tidak ingin melihat Indonesia lebih kejam lagi terhadap rakyat yang di bawah dan makin menurut pada kalangan atas yang umumnya memiliki jabatan tinggi. Aku tak ingin lagi mendengar anomali-anomali bahwa ketidakadilan itu hanya berlaku bagi orang kaya, dan tidak untuk si miskin. Dan untuk mewujudkan keinginan itu, aku sadar bahwa pendidikan dan wawasan yang luas adalah jawabannya. Dan semua hal itu bisa saya dapatkan di bangku perkuliahan.

Untuk mencapai pendidikan yang tinggi, maka dibutuhkan nominal yang tinggi pula. Maka dari itu, saat aku dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa bidikmisi, bagiku itu seperti pintu gerbang. Pintu gerbang perubahan mindset keluargaku, pintu gerbang pendidikan tinggi untuk mewujudkan cita-citaku. Dan pintu gerbang bagi gerakan dan impianku untuk mengubah dan memperbaiki negaraku sebagaimana fungsi dari mahasiswa yaitu sebagai agent of change.

Selain karena saya juga adalah anak pertama dan masih memiliki dua saudara yang harus disekolahkan oleh kedua orangtuaku. Oleh karena itu, saya sekolah tinggi-tinggi bukanlah hal yang mudah bagi kedua orangtuaku. Tapi, dengan bantuan dari beasiswa bidikmisi segalanya menjadi lebih mudah. Bagiku, bidikmisi itu diibaratkan sebgai sebuah tongkat untuk menopang satu kekuranganku dan membantuku untuk melangkah menuju tempat yang aku inginkan. Terima kasih Bidikmisi! Ini adalah kesempatan emas bagiku, sebagai mahasiswa penerima bidikmisi. Dan kesempatan ini tidak akan saya sia-siakan begitu saja, tapi akan saya manfaatkan sebaik mungkin karena bidikmisi adalah cahayaku dalam menggapai impian, yang kusebut itu dengan cita-cita.

Senin, 31 Desember 2018

Sang juara percaya pada dirinya sendiri, bahkan ketika orang lain tidak percaya.

Sang juara percaya pada dirinya sendiri, 
bahkan ketika orang lain tidak percaya

Assalamualaikum Wr. Wb
Perkenalkan saya Muh. Ibnu Al Qadri, teman – teman biasa memanggilku dengan nama Ibnu. Alhamdulillah saya mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi dari Universitas Negeri Makassar, program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah. Saya anak ke dua dari empat bersaudara, asal daerah Sulawesi Selatan. Awalnya keluarga melarang saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dikarenakan terkendala  masalah ekonomi. Saya sempat mengubur mimpi selama setahun untuk dapat mengenyam bangku perkuliahan. Saya mencoba browsing di media sosial, tanya ke senior – senior saya mengenai beasiswa yang benar – benar dapat membantu saya dalam perkuliahan nantinya. Mereka merekomendasikan saya untuk daftar beasiswa Bidikmisi. Awalnya saya ragu, apakah beasiswa ini nantinya benar – benar bisa menggratiskan biaya perkuliahan dan mendapatkan uang saku setiap bulan sesuai dengan pedoman yang tercantum dalam ketentuan beasiswa ini.   Akhirnya saya mencoba meyakinkan orang tua saya, tapi mereka tetap bersikeras melarang saya untuk kuliah. Bapak saya mengatakan seperti ini  “Oke, kamu kuliah gratis, lalu bagaimana dengan biaya kamu pulang balik ke kampusmu? Tugas – tugas kuliahmu nantinya? kamu pasti menggunakan biaya yang cukup besar. Bapak sedang tidak bekerja, belum lagi dengan biaya sekolah adik – adikmu yang masih sekolah dan membutuhkan juga banyak biaya. Lebih baik kamu cari kerja untuk membantu bapak” Ujarnya.
 Mendengar perkataan bapak, hatiku benar – benar teriris. Sakit memang, tapi disisi lain saya juga kasihan dengan bapak yang sudah tua. Ia tidak lagi bekerja akibat penyakitnya yang kadang – kadang kambuh, jadi bapak memutuskan untuk berhenti bekerja. Waktu terus berjalan, pendaftaran seleksi masuk perguruan tinggi negeri resmi di buka ( SBMPTN ) saya pun mendaftarkan diri dengan jalur beasiswa Bidikmisi tanpa sepengetahuan keluarga termasuk bapak. Ketika saya di tanya saat hendak pergi mengikuti tes SBMPTN, terpaksa saya berbohong dan hanya menjawab ikut tes untuk melamar pekerjaan. Sedih rasanya, tapi inilah kenyataannya saya harus melakukan ini demi mewujudkan mimpi besarku.
  Tibalah pengumuman, Alhamdulillah saya lulus dan di tetapkan sebagai penerima beasiswa Bidikmisi. Ini merupakan karunia yang sungguh luar biasa yang Allah SWT anugerahkan kepada saya. Akhirnya perlahan keluarga mulai menyetujui dan memberikan dukungan kepada saya untuk kuliah, dan memang selama saya kuliah biayanya di gratiskan sampai selesai (S1) nantinya dan juga mendapat uang saku bulanan yang di berikan setiap semester. Uang tersebut saya gunakan untuk biaya transportasi ke kampus dan keperluan lainnya. Intinya pintar – pintarlah mengatur keuanganmu agar dapat bertahan lebih lama.
 Sekarang saya memasuki semester IV, Alhamdulillah IPK saya 3.96. Saya juga aktif berorganisasi di kampus. Saya senang menulis, jikalau punya waktu luang di sela – sela rutinitas kampus yang lumayan padat, saya aktif mengikuti lomba – lomba kepenulisan seperti puisi, cerpen, dan kadang – kadang menulis essai. Saya hanya ingin mematahkan perspektif orang – orang bahwa keterbatasan dari segi ekonomi tidak menghalangi seseorang untuk terus berkarya dan berprestasi. Terima kasih Bidikmisi, akhirnya mimpi saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi bisa menjadi nyata.
    Saya percaya tidak ada mimpi yang terlalu tinggi. Kejarlah mimpimu setinggi mungkin, niatkan karena Allah, kau tidak akan kecewa bila tidak meraihnya. Sebab Allah akan menggantinya dengan lebih baik.
  “Jangan pernah berhenti bersyukur apa pun kondisinya, dan jangan pernah berhenti mencoba sekalipun kamu gagal. Sebab saat kau berhenti untuk mencoba, sesungguhnya saat itulah kamu benar – banar manusia yang gagal”.
  Semoga tulisan ini dapat menginspirasi siapa pun yang membacanya, semoga kesuksesan senantiasa menyertai di setiap perjuangan kita. Sekian, Wassalamualaikum Wr. Wb.

Minggu, 30 Desember 2018

Setiap Orang Berhak atas Mimpi Besarnya

Setiap Orang Berhak atas Mimpi Besarnya

Pada saat saya berada di kelas 1 Sekolah Dasar dan Kakak saya kelas 6 memasuki awal semester sekolah. Kami berdua tinggal di sebuah Desa bersama Kakek dan Nenek, sedangkan orang tua kami merantau di Jakarta. Bapak sebagai padagang sayur dan Ibu sebagai pembantu rumah tangga. Karena jauh dari orang tua sejak kecil menjadikan kami anak yang mandiri, meskipun kehidupan sehari-hari layaknya seorang anak adalah bermain. Akan tetapi kami tidak bisa setiap hari hanya bermain dan sekolah sebagaimana kewajiban seorang anak juga belajar dengan mendapatkan pendidikan yang layak. Setiap hari sebelum dan sepulang sekolah kami harus membantu Kakek dan Nenek kami di sawah dan ladang miliknya. Ada suatu saat dimana kami mendapat kabar dari Jakarta jika Bapak mengalami kerugian besar dan ditipu orang padahal saat itu hanya berpenghasilan Lima Puluh Ribu rupiah tetapi uang satu-satunya itu ternyata palsu. Sedangkan saat itu Ibu kami hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang hasilnya cukup untuk kehidupan sehari-hari disana. Dari kabar ini akhirnya kakak saya memilih berhenti sekolah untuk membantu memulihkan keadaan ekonomi keluarga.Setiap orang mempunyai mimpi yang besar walaupun hanya sekadar membahagiakan orangtua.
Waktu terus berganti dan saya telah memasuki Sekolah Menengah, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Masuk sekolah yang Favorit tentu bukan hal yang mungkin bagi saya jika saya tidak mendapatkan beasiswa. Saat inilah awal saya membangun sebuah mimpi besar. Setelah Ujian Nasional SMA seperti pada umumnya semua siswa mulai sibuk mempersiapkan untuk mendaftar ke perguruan tinggi. Berbeda dengan semua teman-teman saya waktu itu saya malah sibuk mempersiapkan diri untuk melamar pekerjaan sampai menuju akhir penutupan pendaftaran masuk perguruan tinggi melalui jalur nilai atau yang sering kita kenal dengan SNMPTN ( Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Guru Sosiologi SMA membujuk saya untuk ikut mendaftar SNMPTN, atas saran Beliau akhirnya saya mencoba untuk mempersiapkan semua berkas keperluan untuk mendaftar perguruan tinggi SNMPTN jalur Bidikmisi (Beasiswa Siswa Miskin Berprestasi) dan lolos seleksi verifikasi lapangan.
Agustus 2014 alhamdulillah segala puji bagi Allah saya masuk di perguruan tinggi negeri di Semarang. Hal yang dulu saya impikan untuk bisa sekolah tinggi bisa tercapai saya pun menghubungi kakak yang di Jakarta dari berita ini kakak memberikan hadiah sebuah 'Netbook' yang disebut orang desa laptop, saat itu masih menjadi barang yang mewah bagi saya. Sesampainya di kampus saya memilih tinggal di asrama karena diwajibkan, selanjutnya tahun kedua saya memilih untuk tinggal di pondok pesantren. Pondok pesantren saya pilih dengan alasan ingin memanfaatkan kesempatan mendapatkan pendidikan yang lebih dengan beasiswa.
Menjalankan peran di dua lembaga pendidikan ternyata kebutuhan untuk membeli buku saya menjadi kurang jika hanya mengandalkan 'living cost' bidikmisi, akhirnya saya memilih untuk bekerja di sebuah kios di sekitar kampus. Selain bekerja 'part time' saya juga aktif mengikuti lembaga kemahasiswaan dan aktif mengikuti kompetisi menulis ilmiah, ini semua saya lakukan untuk meningkatkan kemampuan saya dan saya ingin menunjukkan selama ini saya berusaha bukan menjadi orang yang diam.
Saat akhir semester 4 rombel  kuliah jurusan saya seperti biasa mengadakan 'upgrading' sebut saja 'Upgrading Rombel Prodi Angkatan 2014. Disini ada beberapa penghargaan yang diberikan kepada beberapa Mahasiswa rombel dengan kategori tertentu. Kebetulan saat itu saya berhalangan tidak bisa hadir pada pertemuan itu. Saya ternyata mendapat penghargaan yang bertuliskan 'Mahasiswa Terdiam di Kelas' entah atas dasar apa teman-teman saya menilai seperti itu. Setelah saya sadari memang di kelas saya diam dan tidak aktif, selain itu juga saya juga tidak mengikuti kegiatan lembaga kemahasiswaan yang sama dengan teman-teman kelas rombel saya. Padahal saya aktif mengikuti lembaga kemahasiswaan tetapi saya tidak diketahui teman-teman kelas saya. Saya juga sering berhalangan tidak hadir pada beberapa acara kelas karena saat libur saya bekerja. Mungkin atas dasar itu saya mendapat penghargaan 'Mahasiswa Terdiam' dan saya juga tidak ingin terlihat aktif di kelas. Rasanya saya sangat terpukul dengan penghargaan ini, tentu penghargaan ini tidak ada yang mengetahui kecuali rombel saya, saya cukup mengadu pada Tuhan kalau saya tidak seperti yang teman-teman kira. Biarlah saya diam dimata teman tapi sebenarnya saya sedang berusaha membangun kebahagiaan dan tidak ingin diejek teman, ini semua untuk keluarga dan guru-guru saya yang sudah mengantarkan saya berdiri disini.
Memasuki semester 6 saya mendapat telepon dari Bapak Ketua Jurusan saya untuk mengikuti seleksi Mahasiswa Berprestasi, tetapi saya menolak karena saat itu saya juga bukan mahasiswa yang paling pintar di kelas apalagi di jurusan, saya juga tidak mengetahui mengapa Beliau memlih saya untuk mewakili Jurusan. Setelah saya tanyakan kepada Beliau ternyata alasan Beliau memilih saya karena saya aktif mengikuti lomba karya tulis ilmiah meskipun pada saat sebelum kompetisi Mahasiswa Berprestasi saya hanya sampai pada finalis lomba tingkat nasional untuk bekal mengikuti seleksi Mahasiswa Berprestasi di tingkat Fakultas. Meskipun pada saat kompetisi saya tidak mendapat juara 1 tapi saya bersyukur mendapat 'Best Paper Mahasiswa Berprestasi' saya bangga dengan diri saya dan jurusan saya, ini semua berkat dosen yang membimbing saya.
Selang dua bulan dari kompetisi itu saya mengikuti lomba karya tulis ilmiah tingkat Jawa dan DIY, saya berangkat dengan 2 teman satu tim menggunakan motor dari Semarang sampai Jogja kami tempuh bertiga, dan hasilnya tidak mengecewakan tim saya mendapat juara 1. Perjalan itu bukan suatu hal yang mudah karena kami mengalahkan ratusan peserta lomba.
Akhir tahun 2017 saya mendapat undangan untuk menghadiri puncak penghargaan Dosen dan Mahasiswa Fakultas. Saya mendapat penghargaan kategori 'Mahasiswa Berpretasi Tingkat Nasional' atas 3 kejuaraan Nasional selama tahun 2017. Sampai akhir semester 7 semangat saya mengikuti kompetisi menulis itu saya tidak menyia-nyiakannya dan saat itu saya juga sudah mulai mengabdi menajdi guru di sekolah. Hingga akhir masa studi saya, 12 September 2018 sebelum genap semester 8 saya diwisuda dan  mendapat penghargaan 'Wisudawan Teladan' Jurusan saya, penghargaan itu saya dapatkan atas 5 kejuaraan dan beberapa finalis kompetisi tingkat nasional dan 1 tingkat Asia Tenggara.
Bagi saya menjalankan dua peran dengan status saya sebagai Mahasiswa dan Santri bukan hal yang mudah, butuh kerja keras dan mampu membagi waktu dengan sebaik mungkin. Setiap pagi sampai sore saya menghabiskan waktu untuk di kampus beserta kerja part time pada saat libur kuliah dan kegiatan kemahasiswaan. Sedangkan sore, malam sampai pagi saya menghabiskan waktu untuk istirahat dan belajar di pondok dengan segala aktivitas pondok yang penuh dengan kegiatan. Tapi saya sangat bahagia dan syukur atas nikmat Tuhan yang diberikan kepada saya melalui Bidikmisi, ini semua untuk Indonesia, keluarga saya, semua guru-guru saya, semoga saya bisa menjadi orang yang amanah atas gelar sarjana pendidikan ini.
"Sepanjang hidup adalah proses untuk belajar, dengan belajar semua orang berhak atas mimpi besarnya. Dimanapuan dan dengan siapapun kita bisa belajar. Setiap orang istimewa dan hebat dengan bakatnya masing-masing,  tidak perlu dibandingkan atau menilai seseorang dari luar saja, karena belum tentu apa yang kita nilai itu benar menurut kita. Semua orang berhak untuk menggapai impiannya dengan cara apapun yaitu cara terbaiknya."

Follow Instagram @BidikmisiIndonesia

| Inspiratif | Berkarya | Bermakna | Peduli |

#BIDIKIN #BidikmisiIndonesia #UpdateBIDIKIN #SobatBIDIKIN #MembidikMasadepan #Bidikmisi #bidikinNEWS #Presiden #AbdulRahmanMasruhim #KonjengMakassar #AnakSukses #NKRI #JanganLupaBahagia #InspirasiBIDIKIN #NothingImposible #Ristekdikti #Belmawa #BidadariBidikmisi #BeasiswaLPDP #Matagaruda #MahasiswaBidikmisi #MahasiswaExist #Indonesia #PersBIDIKIN #PembidikMimpi #WorderfulIndonesia #UniversitasIndonesia #MahasiswaIndonesia #Kampus

@bidikmisiindonesia @permadanidiksinasional
@ristekdikti @puang_eman @armi_fly @bidikinnet
@info_beasiswa @matagaruda @lpdp @dibelmawa @nies08

Kuliah itu mahal. Ngga Bakal Sanggup

Kuliah itu mahal. 
Ngga Bakal Sanggup

Assalamualaikum wr.wb
Nama saya Sri Fatmawati.  Alhamdulillah saya sekarang akan menempuh semester 6 di tahun 2019..
Saya kuliah di Universitas Sriwijaya, Program Studi Agribisnis.
Saya anak sulung dari 4 bersaudara. Saya kelahiran tahun 1998, dan sekarang tinggal di MUBA, Bayung Lencir.
Saya adalah anak dari buruh tani.. ya, buruh tani yg pendapatan nya harus dibagi-bagi dengan pemilik kebun. Sewaktu kelas 3 di SMA N 1 Bayung Lencir,  persiapan2 untuk masuk kuliah harus di persiapkan & didiskusikan bersama orangtua dan keluarga. Orangtua sempat tidak setuju dengan niat saya yg mau kuliah. Dengan dalil bahwa" kuliah itu mahal. Nggk bakal sanggup. Apalagi cuma anak buruh tani  penyadap karet dikebun tetangga. Mana sanggup bayar ini itu nya.." (dan masih banyak lagi) Setelah ada sosialisasi tentang bidikmisi kepada wali siswa di sekolah.Orang tua pun masih sempat tidak percaya, kalau kuliah itu gratis, & dikasih uang bulanan dari pemerintah. Tapi saya yang sangat gigih,  karena guru2 saya memberi semangat.. saya pun berontak dengan segala upaya. Saya tetap mendaftarkan diri sbg calon penerima bidikmisi, melengkapi persyaratan, dll nya.
Singkat cerita, saat pengumuman SNMPTN thn 2016, kondisi nya lagi mati lampu sehingga sulit sekali untuk cek pengumuman pada jam 1 siang. Web baru bisa dibuka sekitar jam 4 sore. Alangkah terkejut nya saat melihat hasil, *saya diterima di Universitas Sriwijaya jurusan Agribisnis*
Antara mimpi dan kenyataan saya tetap tidak percaya. Orangtua saya ikut senang melihat saya diterima di universitas sriwijaya sekaligus sbg calon penerima bidikmisi...
Orangtua masih sempat was was.. takut program beasiswa nya hanya janji semata.
Namun Alhamdullilah saya ucapkan puji dan syukur...
Sampai sekarang saya sudah menempuh  pendidikan di Semester 5.. beranjak ke semester 6.. dengan Ipk terakhir adalah 3.49.
Terimakasih bidikmisi...
Wassalamualaikum wr.wb


Follow Instagram @BidikmisiIndonesia 


Jumat, 28 Desember 2018

Kisah Inspirasi Muhammad Tri Aditya Bisa Kuliah Berkat Bidikmisi

Kisah Inspirasi Muhammad Tri Aditya
Bisa Kuliah Berkat Bidikmisi

Assalamualaikum.Wr.Wb

Saya bernama Muhammad Tri Aditya Saya alhamdulillah dapat kuliah di Universitas Malikussaleh berkat Bidikmisi yang saya hanya anak dari ibu penjual kerupuk dan bapak seorang pensiunan perusahaan dengan penghasilan hanya 600 ribuan saja.

Bagi saya sosok Bapak Susilo Bambang Yudhoyono adalah sosok inspirasi bagi seluruh rakyat Indonesia khusus nya penerima Bidikmisi di seluruh Indonesia. Berkat program dari bapak Susilo Bambang Yudhoyono saya dapat berkuliah sampai jenjang sarjana Hukum.

Dan dalam perjalanan kuliah saya juga dipercaya memimpin organisasi bidikmisi di universitas Malikussaleh yang bernama Kemadiksi pada periode 2016 sd 2017.

Dan alhamdulillah saya juga dapat menyelesaikan kuliah dengan IPK.3.50 dengan masa studi hanya 3 tahun 9 bulan saja saya sudah memperoleh gelar sarjana hukum berkat Bidikmisi.

Hanya ini kisah inspirasi dari saya...

#Salambidikmisi...
#Bidikmisigenerasiemas2045....

Wassalamualaikum.Wr.Wb

KU RINDUKAN CINTA ITU DI PULAU BORNEO

  KU RINDUKAN CINTA ITU DI PULAU BORNEO

Hari itu tepat minggu kliwon tanggal 28 januari 1996, di naungi rumah sempit yang tak begitu megah dengan cahaya lampu petromak tangisan bayi memecah heningnya pagi kala itu. Tepat pukul 04.00 pagi seorang bayi perempuan lahir kedunia, tangisan bahagia kedua orang tua bernama Tasiyah dan Ahmad Sudiono pun pecah. Tak  lama kemudian, suara adzan terdengar. Meskipun begitu, nampaknya sang ibu tak boleh berlama-lama menggendongku karena tubuh bayi itu terlalu lemah. Ya, bayi itu lahir prematur. Berat nya sekitar 1,3 kg, mereka memberi nama bayi itu Nur Lathifah yang berarti Cahaya Lembut. Aku pun kemudian dibawa ke rumah Nenek ku di Patimuan, disana sudah ada listrik meskipun hanya 5 watt. Ibuku dengan kondisi lemah terpaksa harus beristirahat di rumah, dan aku diantar oleh Mbah putri dari Ibu. Setelah 3 hari di tempat mbah, ternyata keadaan ku semakin hari semakin lemah.
Kemudian mereka mengantarkan ku ke rumah sakit Cilacap di kota, jaraknya sekitar 2  jam perjalanan.

Di dalam mobil, saya diantar oleh kerabat-kerabat tanpa ibu. Hingga ketika setengah perjalanan, tepat di kawasan hutan pinus pukul 2 pagi mobil yang membawaku terpaksa berhenti karena aku sudah tidak mau menangis dan bergerak di pangkuan mbah. Semua panik, mereka terus berusaha membangunkan aku dan akhirnya aku mau bergerak, mbah pun memberikan asi yg sudah ibuku siapkan di dalam botol. Sesampainya di Rumah Sakit Umum Daerah Cilacap saya langsung dimasukan kedalam inkubator kurang lebih 2 bulan. Kerabat dan tetangga tidak akan menyangka mahluk sekecil botol seprite akan bisa hidup dengan segala cita-cita dan impian-impian nya. Tapi itulah kuasa Tuhan.

1 tahun kemudian..

Hari-hari berganti menjadi tahun, aku hidup dengan kedua orang tuaku di sebuah desa kecil bernama Cinyawang. Sebuah rumah berukuran 5x3 meter menjadi tempat aku berusaha meraih semua mimpi-mimpi ku dan merasakan hangat nya kasih sayang kedua orang tua ku. Aku bersyukur, meskipun Bapak ku hanya sorang penyadap nira dan ibu ku seorang pedagang warung kecil-kecilan di rumah aku bisa menghabiskan masa kecil ku di kampung ini. Tetangga sekitar rumahku kerapkali sering menggunjing keluargaku karena dari 7 keluarga besar dari Bapak kami¸ hanya keluarga kami lah yang hidupnya pas-pasan. Aku kerapkali ikut belanja ibu ke pasar dengan menaiki sepeda, pasar itu cukup jauh jaraknya dari rumah kami sekitar 4 kilo. Dengan bersusah payah dan penuh keringat ibuku tetap tersenyum dan sesekali membelikan aku jajan. Kemudian usia ku menginjak 6,5 tahun, aku pun dimasukan ke dalam sekolah dasar di dekat rumahku. SDN Cinyawang 02 merupakan salah satu SD favorit di Kecamatan ku, aku masuk sekolah kelas 1 mendapatkan nilai 0 pada mata pelajaran matematika. Saat pulang pun aku tak pernah dimarahi oleh ibu maupun Bapak ku, mereka selalu menyuport dan menemani ku belajar. Hingga pada saat aku kelas 3, aku dikaruniai adik laki-laki namanya Muhammad Nur Fikri. Ditengah-tengah lingkungan sosial yang cukup tertekan, aku berusaha untuk menjadi anak yang pintar supaya keluarga ku tidak disepelekan oleh tetangga. Menginjak kelas 4 SD, aku berhasil menjadi juara 1 lomba lukis di popda seni, kemudian saat kelas 6 aku kembali mengikuti lomba mapel IPA tingkat karisidenan. Hingga pada akhirnya aku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan, aku masuk ke SMP N 1 Patimuan. Sekolah favorit di daerah ku, para tetangga terus sensi terhadap apa yang keluarga kami dapatkan. Saat kelas 7, aku mendapatkan rangking 1 dan saat kelas 8 aku mengikuti olimpiade lomba mapel IPS di Kota. Hingga saat Ujian Nasional tiba, aku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Aku diterima dan mendapatkan beasiswa penuh disalah satu SMA favorit di kota Cilacap yaitu SMAN 3 Cilacap yang Berstatus RSBI. Aku tak pernah menyangka anak desa dengan keadaan ekonomi rendah bisa melanjutkan sekolah ke tingkat menengah atas dengan beasiswa penuh. Rasanya kebahagiaan itu benar-benar komplit saat itu, akan tetapi itu lah ujung sebuah perpisahan. Tepat ketika saya pulang sekolah untuk mengurus berkas-berkas, Bapak ku sudah di rumah akan tetapi aku tak melihat ibu di rumah. Bapak kemudian berkata "Bapak sangat bangga padamu, sekolah lah yang giat dan rajin. Terima kasih sudah membahagiakan kami, Bapak dan mama akan pergi. Suatu saat pasti kita akan bertemu lagi, jaga diri baik-baik di tempat Pakdhe" aku pun tak kuasa menahan tangis, Bapak kemudian memeluk ku seraya berkata "maafin Bapak ndho, belajar yang rajin biar kamu ga kaya Bapak. Hidupnya susah, dihina-hina dan disepelekan orang" aku tak mampu berucap apapun, hanya sebuah anggukan. Itulah pelukan terakhir Bapak yang aku rasakan tanpa melihat ibu. Saat aku bertanya, "Bapak akan pergi ke mana? Mama mana?" beliau hanya menjawab "Bapak akan pergi keluar desa, entah kemana. Yang jelas Bapak sudah tidak tahan lagi dengan orang-orang disini, mama sedang ke pasar". Aku mengira bahwa mungkin mama tak snggup untuk melihat ku, beliau adalah orang yang sangat sabar, lembut dan penyayang. Aku tak menyangka, apakah alasan mereka meninggalkan ku di usia 15 tahun? Hingga pada saatnya aku harus pergi ke Cilacap untuk menuntut ilmu, Bapak mengantarkan ku ke seberang jalan untuk naik bus. Di dalam bus aku melihat lambaian tangan Bapak kepadaku untuk terakhir kalinya. Dada ini rasanya sesak sekali, air mata pun membasahi pipiku.

1 minggu kemudian..

Di tempat Pakdhe, saya masih belum bisa beradaptasi secara penuh. Aku terus memikirkan kedua orang tuaku dan mencari sebab mengapa mereka pergi. Hingga pada suatu sore, budhe dan Pakdhe menghampiriku. Pakdhe berkata "Fah, sing legowo ya.. Bapak dan mama mu pergi ke Kalimantan. Engga bilang ke Ifah, supaya tidak kepikiran. Yang penting ifah sudah sama Pakdhe, belajar yang rajin. Biar Bapak ibumu bangga" aku hanya duduk diam tak berkata apapun, dalam hati ini berkecamuk. Rasa sedih, marah, rindu bercampur menjadi satu. Mengapa Tuhan timpakan ini pada saya? Mengapa kami tak sama seperti mereka yang hidupnya serba kecukupan dan bisa kumpul dengan kedua orang tua mereka? Pertanyaan itulah yang berkecamuk dalam diri ini. Malam itu aku tak bisa tidur, hingga ke esokan harinya, nilai ulangan ku jeblok. Selama kedua orang tuaku pergi kurang lebih 1 minggu an, mereka belum pernah menghubungiku. Sms-sms dari orang tak dikenal terus meneror hp ku. Salah satu pesan nya yaitu: "No, siki kowe nang ndi? Tak parani ne..!" aku kaget bukan kepalang, Bapak ku di cari-cari orang tak dikenal. Aku pun sempat beberapa kali di telpon oleh orang tak dikenal yang marah-marah dan mencari Bapak ku sembari melontarkan ancaman akan membunuh. Dengan keadaan takut, cemas dan bimbang akhirnya aku ganti nomor. Sebenarnya apa yang terjadi? Karena Pakdhe pun, tak menjelaskan kenapa kedua orang tua ku pergi. Bapak ku memiliki masalah pelik dan beberapa hutang yang jumlah nya jutaan. Mereka lakukan untuk membiayai sekolah dan kehidupanku.. Akupun syok,dan hanya bisa berdoa pada Tuhan, untuk senantiasa diberikan keslamatan untuk kedua orang tuaku.

Saat aku kelas XI aku mendapatkan juara harapan 1 lomba roket air tingkat kabupaten Cilacap, aku pun menjadi finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah, dan penelitian di Candi Borobudur untuk pertama kalinya. Saat dikelas XI pula, aku diberikan kepercayaan untuk mengikuti kelas Olimpiade Kebumian tingkat Kabupaten Cilacap, meskipun tidak juara aku sungguh bersyukur mendapatkan segala pengalaman ini. Saat Bapak ibuku pergi meninggal kan ku sejak masuk SMA, aku pulang ke tempat mbah dari ibu. Tempat dimana dulu aku dilahirkan dengan segala kekurangan yang ada¸saat liburan datang aku yang merawat mbah ku ketika sakit parah. Namun ketika hari jumat, Allah ternyata memanggil mbah ku ke pangkuan-Nya. Aku sendiri.. Ya, saat itu aku merasa sendiri. Kedua orang tua ku pergi, mbah ku juga pergi untuk selama-lamanya.

Kemudian, hari berganti tahun. Aku benci ketika idhul fitri tiba,,Tiap kali hari itu datang, tekanan dalam diri ini terus bergejolak. Ada sebuah tradisi dalam keluarga besar Bapak ku, yaitu kumpul keluarga saat hari lebaran kedua. Disana ada kegiatan arisan keluarga, saling bertukar informasi mengenai keadaan keluarga mereka masing-masing, menceritakan segala perkembangan maupun "membanggakan" anak nya masing-masing. Lalu apa yang harus aku ceritakan dan banggakan ditengah mereka? Aku hanya seorang anak yang bertugas "mewakili" Bapak ibu ku disetiap acara keluarga. Meskipun demikian, aku tetap bangga pada diriku sendiri. Alloh memberikan cobaan ini padaku karena aku kuat dan mampu. Dengan segala kondisi itulah aku tumbuh menjadi anak yang mandiri. Hingga aku bertekad, aku kan mampu menjunjung martabat kedua orang tua ku di depan semua orang termasuk saudara-saudaraku.

Aku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan, aku mencoba jalur bidikmisi di SNMPTN Universitas Negeri Senarang. Syarat-syarat yang harus di penuhi memang cukup berat, Bapak ibuku yang saat itu sudah pindah ke Kalimantan Tengah (Palangkaraya) harus rela naik motor hujan-hujanan bolak balik ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan untuk mengambil foto rumah yang hanya seukuran kurang lebih 3x3 meter. Melihat semua usaha yang Bapak ibuku lakukan untuk ku, aku tak mau menyia-nyiakan nya. Aku melengkapi semua berkas-berkas bidikmisi lewat warnet di kota. Karena tempat tinggal ku jauh dari akses internet. Hingga pada saat nya tiba, aku membuka pengumuman SNMPTN di rumah pakdhe ku, aku diterima dengan beasiswa bidikmisi..! Bahagia dan rasa haru biru benar benar aku rasakan. Bahkan aku menjadi satu-satunya siswa yang di terima jalur undangan di UNNES, akupun segera telpon ibuku. "Mamah, aku diterima kuliah di UNNES jalur undangan dengan beasiswa bidikmisi" tapi setelah itu, tak terdengar suara apa pun di dalam telpon. 2 menit kemudian, telpon itu terputus. Aku bingung, mengapa ibu ku tak berkata apa pun dan menutup telpon nya? Tak lama kemudian, masuk sms "Alhamdulillah ndho, Bapak mama ikut seneng. Mama gak bisa berkata apapun, ini rencana Alloh buat kita. Belajar yang rajin, supaya nasib mu tidak seperti Bapak mama. Yakinlah suatu saat kita pasti bisa ketemu lagi, mama sayang ifah" aku membaca sms tersebut sambil berderai air mata. Karena aku percaya Tuhan mendengar lebih apa yang kita ucapkan¸menjawab lebih dari yang kita pinta dengan waktu dan cara-Nya sendiri.

1 Ramadhan..

saat aku hendak belajar kelompok dan aku membawa laptop sepupuku, aku di rampok di tengah jalan. Aku syok bukan kepalang, kubawa kaki ini terus melangkah mencari masjid terdekat, karena hanya kepada Nya lah aku meminta tolong. Tak lama kemudian, aku bertemu dengan seorang ibu-ibu dan memberiku uang 14.000 rupiah untuk berbekal pulang. Sungguh maha besar Alloh¸Dia tak pernah membiarkan hamba-Nya dalam kesulitan sendirian. Hati ini berkecambuk tak karuan, rasa haru biru memenuhi dada ini. Berbekal dengan uang 14.000 aku pun dapat pulang sendirian sekitar 2 jam ke kota Cilacap. Di sepanjang perjalanan aku terus menangis, tak percaya dengan keadaan yang baru saja menimpaku. Bayang-bayang budhe dan pakdhe ku terus menghantui pikiran ku, apa yang harus aku katakan pada mereka? Kalau laptop saudara sepupu ku di jambret orang?? Uang tunai senilai 350.000, kartu tanda mahasiswa, KTP dan ATM untuk bidikmisi pun hangus. Hari itu tepat hari pertama bulan ramadhan. Setiba nya di Cilacap, aku berusaha ke kantor polisi untuk melaporkan apa yang telah terjadi padaku. Pertama kalinya aku dengan berani memasuki pusat kantor polisi kabupaten seorang diri dengan modal nekat, harapan ku hanya satu.. Orang itu bisa terlacak..! Setelah memasuki kantor polisi, hasilnya nihil.. Karena aku tak hafal nomor motornya. Melihat badanku yang kurus kering, lemas dan putus asa kemudian aku diajak oleh salah seorang anggota polisi untuk berbuka bersama. Aku disuguhi teh manis hangat dan roti. Selepas itu pun, aku memberanikan diri untuk pulang ke rumah, mengumpulkan seluruh energi dan mental untuk berkata yang sesungguhnya. Sesampainya di rumah, aku menghadap budhe ku dan berkata apa yang telah terjadi dengan deraian air mata penyesalan. Awalnya budhe ku marah dan kaget bukan kepalang, aku terus memegang tangan nya sembari meminta maaf dengan badan yg bergetar hebat. Akhirnya budheku memaafkan ku, dan bilang bahwa "besok ketika kamu udah ada uang dan sukses, ganti laptop itu!!" dan aku mengiyakan permintaan beliau. Semua masalah yang aku alami, tak pernah kuceritakan pada kedua orang tuaku, aku tahu mereka sangat khawatir dan memikirkan ku. Segala permasalahan dan himpitan ekonomi yang melanda Bapak ibuku, aku tak mungkin menambah beban hidupnya. Bapak ku bekerja sebagaui buruh bangunan dan ibuku bekerja di sebuah toko. Akan tetapi Bapak ku akhirnya keluar dari proyek pembuatan rumah karena hasil kerjanya selama 3 bulan tidak dibayar, Bapak pun berpindah menjadi tukang las. Aku sungguh merindukan cinta yang dulu aku rasakan, kini hanya bisa bertemu dalam setiap doa. Masa-masa sulit tentu sering aku alami saat duduk dibangku perkuliaan, saat uang bidikmisi belum turun dan aku arus segera membayar kekurangan uang kos sebesar 1,2 juta. aku tak mungkin menceritakan segala kesulitan ku pada bapak ibuku. Karena sulitnya mencari part time disekitar UNNES, akhirnya Alloh memberikan aku jalan. Aku membantu mengola data lapangan penelitian dosen yang saat ini S3 di Belanda. Uang 1,2 juta pun aku terima atas pekerjaan itu.

Hingga pada suatu massa, aku mendengar kabar bahwa ibuku akan melahirkan anak ke 4 nya. Mereka membutuhkan dana sekitar 5 juta untuk biaya persalinan, kabar itu aku dapat dari grup whattshap keluarga. Aku kaget dan sedih¸karena mereka tak pernah menyeritakan padaku. Tak pernah terlintas di dalam pikiranku¸ untuk makan sehari-hari saja mereka terkadang masih bingung apalagi harus menanggung 1 anggota keluarga baru dengan biaya persalinan 5 juta. Semalaman aku menagis mendengar kabar itu, pikiran ini terus saja memikirkan kedua orang tuaku. Tetapi, disitulah kuasa Tuhan, Ia menolong kedua orang tuaku dengan cara-Nya sendiri. Aku pun membelikan beberapa perlengkapan bayi senilai 300.000 untuk meringankan kedua orang tuaku.

Dari kisah yang sederhana ini, semoga teman-teman bisa bersyukur betapa berharganya dapat melihat, memeluk kedua orang tua dengan rasa syukur berada di sampingnya.. Jangan pernah menyesali keadaan yang membuatmu terluka, karena itu cara Tuhan untuk mendewasakan mu, dan percaya saja dia punya rencana indah untukmu.. dan aku menunggu hingga waktu itu tiba.. Entah kapan..

Kamis, 27 Desember 2018

Anak Nelayan, Lulusan Terbaik

Anak Nelayan, Lulusan Terbaik

Iwanto Raih IPK 3,96 di UMRAH Tanjungpinang
Penghasilan orangtua pas-pasan. Hidup sederhana dan serba kekurangan saat kuliah tidak mematahkan semangat Iwanto untuk tekun belajar. Kondisi itu juga yang membuatnya menjadi lulusan terbaik.
TANJUNGPINANG – SAAT wisuda ratusan sarjana Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, akhir pekan lalu, nama Iwanto dipanggil sebagai lulusan terbaik dengan perolehan IPK 3,96 (cumlaude).
Usaha dan pengorbanan Iwanto selama 3 tahun 10 bulan di bangku kuliah terbayar sudah dengan perolehan sebagai wisudawan predikat lulusan terbaik tingkat fakultas dan juga universitas di Kampus UMRAH.Iwanto seorang anak yang lahir dari keluarga sederhana, dari pasangan Ali dan Maryam. Mereka hidup dari hasil laut dengan menjadi nelayan di Pulau Tanjungbalai Kecil di Kabupaten Karimun.
Ia merupakan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) jurusan Teknologi Hasil Perikanan. Ia sangat bersyukur menjadi lulusan terbaik fakultas dan juga universitas.
”Dulu, bagi saya kuliah itu cuman impian dan mimpi semata. Mengingat penghasilan orangtua saya yang kurang dari Rp1 juta per bulannya. Untungnya ada Beasiswa Bidikmisi. Sehingga saya bisa kuliah dan sekarang bisa menyelesaikan program sarjana saya di jurusan Teknologi Hasil Perikanan,” ungkap Iwanto, Selasa (18/9).
Dengan kesempatan inilah, ia pun memanfaatkan peluang itu sebaik mungkin. Jadi lulusan terbaik memang target Iwanto, dan itu merupakan niatnya sejak awal masuk kuliah di UMRAH.
”Mengingat saya kuliah dengan segala keterbatasan, hanya bergantung pada beasiswa. Saya berpikir semuanya harus terbayar dan akhirnya keterbatasan itu pula yang mendorong saya untuk berbuat lebih hingga saya bisa lulus dengan predikat cumlaude,” ucapnya.
Dengan mengambil judul skripsi yakni ‘Biosensor Pendeteksi Kesegaran Ikan Berbasis Indikator Warna Bromocresol Purple’, menjadikan Iwanto sebagai lulusan pemuncak tingkat fakultas sekaligus tingkat universitas pada Wisuda Sarjana ke- XI Umrah yang berlangsung di Aula Kantor Gubernur, Pulau Dompak, Sabtu (15/9).
Walaupun pada awalnya, ia sebelum melakukan penelitian begitu banyak kendala yang dihadapinya. Kendala itu seperti masalah dana yang akan digunakan untuk melakukan penelitian.
Itu tidak membuatnya putus asa dan mencari jalan untuk mengatasinya dengan mengikuti Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) di Tanjungpinang.
”Selama penulisan, alhamdulillah nggak ada kendala. Cuman awal-awal saja, ketika mau penelitian kendala di dana. Tapi alhamdulillah, Allah SWT punya cara, kebetulan ada ajang TTG tingkat Kota Tanjungpinang dan saya ikutkan penelitian saya di lomba itu dan menjadi juara. Nah, hadiahnya itu dibuat biayai penelitian saya,” tuturnya.
Ia menjelaskan, pada umumnya penilaian  terhadap kesegaran ikan secara luas masih menggunakan metode penilaian secara  sensori seperti penampakan, tekstur, bau dan warna. Dari penelitiannya inilah, Iwanto bisa memberitahukan kepada orang ramai kalau kesegaran ikan tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
”Ada ikan yang kelihatannya segar, tapi kandungan racun (histamin) sudah diambang batas. Tidak bisa kalau dilihat dengan mata telanjang. Sehingga diperlukan teknik lain. Teknik lain yang dapat digunakan untuk  melihat  kesegaran ikan dari aspek mikrobiologi, dapat  menggunakan metode TPC (Total Plate Counts). Sedangkan  secara  kimia dengan  metode  TVB-N  (Total  Volatile  Basic Nitrogen). Namun demikian,  cara  penilaian  tidak  langsung  ini  membutuhkan waktu yang lama dan ilmu  khusus  untuk  melakukannya,” jelas Iwanto.
Selain  itu, dibutuhkan juga laboratorium  yang  memadai  serta  alat dan  bahan  yang tidak dimiliki oleh setiap orang. Sehingga, perlu ada alat sederhana yang dapat digunakan untuk mendeteksi kesegaran ikan dengan mudah dan cepat.
Setelah lepas dari penelitian, Iwanto harus mengikuti sidang dengan beberapa dosen penguji yaitu R. Marwita Sari Putri, S.Pi., M.Si, Jumsurizal, S.Pi., M.Si, Aidil Fadli Ilhamdy, S.Pi. M.Si sama Ginanjar Pratama, S.Pi., M.Si.
Ia mengaku, kelima dosen tim penguji itu melayangkan berbagai pertanyaan yang sedikit gugup dirasanya namun ia berusaha santai. Dengan waktu sidang, 1 jam 27 menit ia pun berhasil melalui rasa yang bercampur aduk.
”Semuanya nanya tentang bagaimana proses kemunduran, terkait mutu ikan dari awal ditangkap. Dikarenakan kemunduran mutu ikan sudah dipelajari di saat semester 2, jadi saya masih ingat dan tak begitu sulit bagi Iwan menjawabnya,” ungkapnya.

Selasa, 25 Desember 2018

Anak Seorang Sales Bisa Lanjut Kuliah Berkat Bidikmisi

Anak Seorang Sales Bisa 
Lanjut Kuliah Berkat Bidikmisi

Salam semangat , Para pencari beasiswa
Perkenalkan saya  Dara Putri Oktiara kelahiran 17 oktober  1999 asal bekasi ,  saya sama seperti kalian dulu saya ingin kuliah tapi saya tahu diri saya bukan dari keluarga yang lengkap ibu saya hanya seorang sales dia orang tua tunggal untuk saya , saya dan adik saya di besarkan oleh ibu yang luar biasa dia tak pernah menyerah meski harus menghidupi ke dua anaknya sendiri.
Tepatnya 1 tahun lalu saya adalah orang yang selalu mencari beasiswa karena keinginan kuliah saya sangat besar saya ikuti semua jalur prestasi di PTS maupun PTN ,Saya selalu percaya allah tidak akan patahkan semangat saya meski saya jatuh berkali kali saya ikuti semua jalur masuk kuliah  baik snmptn ,pmdkpn ,sekolah kedinasan tapi saya tidak berhasil ditahap akhir di setiap tesnya , sampai saatnya saya mulai menyerah.
Tapi saya kembali ketekad awal saya ,saya harus kuliah saya harus bisa memperbaiki pendidikan di keluarga saya dan saya harus bisa membanggakan keluarga saya ,akhirnya saya mulai mencoba lagi  untuk mencari beasiswa hingga tanpa saya duga Allah memberikan sesuatu di luar dugaan saya ,saya mendapatkan beasiswa bidikmisi di STMIK Bani Saleh kampus swasta di daerah bekasi dan saya juga mendapatkan tawaran beasiswa prestasi di salah satu univ swasta akhirnya saya menjalani kuliah saya lewat jalur BIDIKMISI dan  saya kembali percaya Allah selalu punya rencana indah dibalik setiap badai dan hujan yang kita lewati.
Jangan pernah menyerah dengan keadaan apa lagi merasa tidak yakin kepada diri kamu sendiri ,terus semangat berusaha dan berdoa karena kamu tidak tahu pada usaha ke berapa dan pada doa yang mana yang akan allah jabah , ingat untuk kalian yang senasib dengan saya  hidup dengan ibu yang luar biasa tanpa ayah , ingat itu bukan membuat kalian patah semangat tapi itu harus bisa membuat kalian bangkit dan membuktikan kalian bisa dan layak memiliki hak yang sama dengan mereka . Semangat Untuk semua saya sangat Bangga menjadi bagian dari Beasiswa Bidikmisi Indonesia.

ANAK DESA BISA KULIAH DENGAN GRATIS FULL

ANAK DESA BISA KULIAH
DENGAN GRATIS FULL
Karya Reni Nurliani

Setiap insan yang bernyawa pasti menginginkan kuliah baik itu di Negeri maupun di Swasta. Namun tak semua Anak Desa menginginkan kuliah akan tetapi saya berada di posisi anak desa yang ingin kuliah bahkan aku ditambah lagi kuliah tanpa biaya.

Sebelumnya sudah saya  posting yang berjudul “Kuliah Hanya Modal Berdo’a dan Bertekad Tinggi “ masih ingatkan ? atau lupa ? atau sama sekali belum baca ? coba baca lagi deh…. Hhhe biar nyambung ke cerita ini, Kalau belum baca jangan coba-coba deh baca yang ini keras loh tak akan kuat biarkan aku saja kamu tak akan mampu membacanya. Jika sudah membaca yang sebelumnya ok kamu pasti akan kuat deh.. yakin sekeras apapun cerita ini pasti kamu mampu deh.. selamat membaca jangan lupa baca sampai tuntas ya..ok.

Saya adalah seorang gadis yang dilahirkan dari keluarga yang sedehana.
Bapakku hanya sebagai petani dan ibuku hanya sebagai ibu rumah tangga.
Diluar sana masih banyak anak muda yang malu dengan pekerjaan orangtuanya sendiri karena sebagai petani. Itu tidak ada gunanya, namun menurutku pekerjaan petani sangatlah halal dan sangat berjasa bagi semua orang.

Coba bayangkan jika di Negara ini tidak ada petani satupun, mau makan apa kita ? apakah cukup dengan roti? Tidak kan kita juga butuh yang namnya makanan pokok yaitu nasi. Jadi jika pekerjaan bapakmu seorang petani janganlah malu anda harus bangga punya bapak sebagai petani.
Buat apa anda harus bangga punya bapak seorang pejabat kalau diakhir korupsi,  apakah bangga anda punya bapak yang korupsi? Saya rasa bukan bangga akan tetapi akan menjatuhkan harga diri keluarga atau bisa dibilang MALU.

Saya seorang gadis yang berasal dari Desa yang mempunyai tekad yang tinggi yaitu salah satunya ingin kuliah…………..
Saya ingin kuliah namun pastinya ada kendala yaitu uang.

Ketika ambisiku terlalu tinggi banyak orang disekitar saya  yang menertawai dengan senangnya, mereka bilang “ bahwa itu hanya mimpi semata”. Bahkan mereka bilang :
“ Anak dari desa tidak perlu sekolah sampai sarjana , jangan bermimpi yang terlalu tinggi nanti kamu akan ditertawai orang-orang sedesa”, ada juga yang bilang “ hahahaha hahahaha hahhaa kamu belum tidur ya semalam ? “ kamu punya modal apa kuliah kan bapakmu hanya sebagai petani, mana mampu, kamu harus kasian sama bapakmu “.

Itulah perkataan-perkataan dari orang-orang yang mungkin tidak suka dengan ambisiku yang terlalu tinggi.
Namun aku akan membuktikan bahwa aku mampu kuliah yang tanpa biaya alias yang dibayar oleh pemerintah.

Hari H kuliah telah tiba Alhamdulillah saya kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang berada di Jawa Barat.  Ini semua atas ijin Allah, Alhamdulillah nya lagi saya kuliah dengan gratis tanpa biaya .yang ada malah dikasih uang saku. Bukankah itu merupakan mimpi saya ? ya betul sekali.

Anak Desa juga bisa kuliah gratis full.
Ayo adek-adek semangat kuliah
Ayo adek-adek jangan ragu-ragu.
Bulatkan keinginan adek-adek untuk kuliah.
Jika ade-ade ada kendala karena biaya.

Jangan takut jangan rapuh keinginan ade-ade tenang pemerintah menyediakan beasiswa berbagai macam. Salah satunya adanya BIDIKMISI dengan adanya bidikmisi ini masyarakat yang kurang mampu akan terbantu dan akan lebih semangat lagi mencari ilmu. Jangan malu kalau anda salah satu yang mendapat bidikmisi malahan anda harus bangga anda bisa kuliah dan mendapat bidikmisi. Bidikmisi itu biaya perkuliahan dari awal sampai akhir ditanggu dan mendapat uang saku lagi.

Aku juga salah satu dari sekian juta yang mendapat bidikmisi. Alhamdulillah ini juga atas ijin Allah dan tentunya atas ridho orang tua juga sehingga bisa  sampai saat ini.

Do’ain ya kaka-kaka yang membaca blog ini semoga saya lulus sampai wisuda nanti dan tentunya berprestasi.

Jika aku sudah wisuda nanti aku ingin menjadi bagian aparat pemerintahan yang PNS, mau tahu kelanjutannya ? pasti akan saya posting. Pantau terus blog ini.

Anak Desa tidak ada halangan untuk tidak kuliah.
Anak Desa harus Kuliah.

#Bidikmisi
#Bidikin
#Ayo kuliah